



Saya hanyalah seorang fakir ilmu dan miskin jiwa, ingin bebas menarik hal-hal yang sulit terpecahkan bahkan mustahil sekalipun,ingin bebas mengungkap keberadaan yang ada,ingin bebas menelusuri fikiran dan jiwa tanpa batasan waktu,ingin bebas bergerak dalam aliran kemewaktuan yang terhantar bebas keseluruh titik di dunia,ingin bebas menentukan sendiri apa yang saya butuhkan dan saya percayai, belajar dan berbagi semua kemurnian pengetahuan, demi kenyataan bahwa kita sama tuk berbagi.



Do'a untuk Cak Nur: Tua muda, miskin kaya, rakyat pejabat semua berdoa. Entah apa yang menjadi pujian dan harapan. Namun terlepas dari semua itu mereka meyakini ada sesuatu selain di balik dirinya yang berkuasa. Presiden Republik Indonesa Soesilo Bambang Yodhoyono dan Wakil Presiden Yusuf Kalla sedang mendo'akan wafatnya Nurcholish Madjid seusai sholat jenazah di Jakarta. (Photo by Fachry Latief, Jakarta, 20050829)
Anak-anak Gempa Nias: Saksikanlah mereka menjerit, saksikanlah mereka terbirit-birit, haruskah mereka larut dalam keputusasaan?. Meski merintih tangis. Jangan biarkan mereka menyalahkan realitas yang ada. Mereka butuh kita, mereka ternganga, mereka trauma. Dua anak penduduk Nias yg berfoto di balik rumahnya yang hancur karena gempa. (Photo by Fachry Latief)
Dua Sisi : - Ada hitam ada putih, ada bersih ada kotor. Bagaimana pemandangan indah enak dipandang tapi ada juga dibalik keindahan itu yang tak sedap. Manusia-manusia ini mencoba menghilangkan kekotoran dari hari ke hari. Dari detik ke detik membersihkan kotoran agar nampak bersih dan indahnya isi bumi. (Photo by Fachry Latief)
Mutiara Di limbah : Menyatu dengan limbah hitam kenyal sekali-kali harus menyelam meraup pasir sedalam satu meter aliran sungai ciliwung di pinggiran kota Jakarta tepatnya pembuangan limbah jalan Rasuna Said. Adakah cincin, emas, berlian atau mutiara yang dicarinya. Bermodalkan niat dan semangat untuk berjuang pertahankan kehidupannya agar waktu ini tak berhenti bagi perjalanannya. (Photo by Fachry Latief)
Nelayan : Adzan subuh mereka menepi ke darat turunkan hasil semalam dari menebar jala menggengam hamparan ikan untuk sekedar mempertahankan agar tetap ada. Dinginnya malam di bawah bulan, goyangan ombak yang keras menghempaskan kemana semua ini melintang, di pasrahkan semua ini pada derunya ambak. Ikan-ikan itu pun menjadi nikmat bagi mereka. (Photo by Fachry Latief)
Di akhir tahun 2007 ini, banyak pertanyaan yang muncul dari rekan-rekan, mengapa saya suka menggeluti fotografi khususnya foto jurnalistik dan dokumenter ?
Jawaban singkatnya, barangkali itulah yang namanya naluri. Naluri untuk membuat catatan visual tentang sebuah peristiwa, apapun bentuk peristiwanya. Peristiwa di mana saya berada atau tergerak untuk berada di tengah peristiwa itu. Di sisi lain, ada naluri untuk dapat bercerita tentang ketidakberdayaan manusia yang tersapih dari perhatian khalayak.
Perangkat foto digital memang menjawab kehampaan setelah hampir sepuluh tahun dari kegemaran saya akan foto dokumenter. Ya, teknologi digital memang sangat memberdayakan. Sejak tahun 1987 sampai saat inipun kehidupan profesi saya d bidang teknologi informasi juga diberdayakan oleh teknologi digital.
Sejalan dengan waktu, perjalanan karir di bidang teknologi informasi khususnya komunikasi data serta menyelami soal knowledge management, kedua bidang itu sekarang melebur menjadi satu dan sangat berguna untuk membuat konsep, mendapat insight dan mengeksekusi sebuah karya foto. Hubungan antara IT, Knowledge Management dan Fotografi saya catat pada bagian tulisan lain kolom ini.
Lendy Widiana, www.photojournalist.wordpress.comMerekam dalam rana di sepersekian detik Setiap kilas ekspresi Keabadian insan dan alam Diantara butiran waktu Sebagai cerminan makhlukNya dari sebuah proses perjalanan Dengan keterbatasan kasat mata Yang kita tak dapat mengulanginya Melalui bisikan seruling jiwa Menghantarkan telunjuk jari Memfokus dan mengkotakkannya Dalam komposisi subyektifitas. Satu masa Dikala letih dan gelap Datangnya senja dan fajar Ingatanpun kan menguak kembali dalam fakta kejujuran gambar Kisah kasih dan suka duka Senyum pedih dan tangis bahagia kejayaan dan kehampaan Melahirkan hikmah dan makna Nampaklah disana Kebahagiaan kisah anda, Yang juga kebahagiaan kami.
Fachry Latief, Jakarta 1998